اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ SOLAT TIANG AGAMA.. SELAMAT MEMBACA.. ANDA SENYUM KAMI BAHAGIA..

TAULADAN: SI BUTA, PELITA DAN SI CELIK

Pada suatu malam, seorang buta memohon pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalkan dengan sebuah pelita. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang sendiri tanpa pelita ini” Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain dapat melihat kamu, biar mereka tidak melanggar mu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.

Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan telah melanggar si buta tersebut. Dalam keadaan terkejut , ia membebal, “Hei, awakkan punya mata! Beri lah jalan buat orang yang huta ni!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu tanpa berkata apa-apa.

Kemudian seorang pejalan kaki lainnya melanggar si buta berkenaan. Kali ini si buta itu bertambah marah, “Apa kah kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menjawab, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!” Si buta terpegun. Menyadari situasi itu, orang yang melanggar tadi meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si pelanggar tadi membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun meneruskan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang melanggar orang buta itu. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?” Pelanggar nya tadi menjawab, “Owh saya juga mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak. secara beriringan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” kedua meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertaburan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia melanggar kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam hati orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.” 

TAULADAN DARI CERITA INI IALAH:
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan . Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf. Pelanggar yang pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.

Pelanggar kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin celik, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lalu di jalanan mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan. Sudahkah kita suluh pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan~:)

Reactions:

1 comments:

  1. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan telah melanggar si buta tersebut. Dalam keadaan terkejut , ia membebal, “Hei, awakkan punya mata! Beri lah jalan buat orang yang huta ni!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu tanpa berkata apa-apa.

    BalasPadam

COMMUNITY BIZ COMBO

Bantuan pengiklanan dan banyak lagi

UNLIMITED BROADBAND

Unifi atau Streamyx? Anda pilih.

COWAY THE WATER SPECIALIST

Call or whatsapp 0128477709

NAK PAKAI? NAK JUAL?

KLIK DAN TEMPAH

LEBIH 260 SIARAN

Semua movie terkini di panggung wayang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


Assalamualaikum.. Adik saya Termizzi Bin Senak kembali ke warahmatullah lebih kurang 8.30pm 16 Februari 2012. Mohon pembaca sedekah al-fatihah kepada arwah. al-fatihah.

Mak saudara rakan saya ujang (Firdaus) iaitu Cik Dayang Fatimah Binti Abang Drahman telah kembali ke warahmatullah hari ini 22 Februari 2012. Mohon pembaca sedekah al-fatihah kepada arwah. al-fatihah

Guru silat saya Dato Dahlan Ali telah kembali ke warahmatullah pada 19 Mac 2012. Mohon pembaca sedekah al-fatihah kepada arwah. al-fatihah.